DESIGNED BY DILA
shop-ad-books.jpg
Print

Antre Zakat, 21 Perempuan Tewas

Written by Administrator. Posted in Latest News

WARGA Pasuruan berduka, peristiwa memilukan terjadi di bulan Ramadhan. Sebanyak 21 perempuan tewas berdesakan dan terinjak-injak kala berebut zakat sebesar Rp 20.000 dari seorang warga H Saikhon, 55, warga Gang Pepaya, Jalan dr Wahidin, kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9).

Meski pembagian zakat baru dilangsungkan sekitar pukul 09.00 WIB, namun sejak pukul 06.00 WIB, ribuan dhuafa dari Kota dan Kabupaten Pasuruan, mulai berdatangan di sekitar lokasi.

Memasuki pukul 09.00 WIB, zakat mulai dibagikan oleh sejumlah panitia yang dikoordinir oleh dua putra H Saikhon, yakni A Cholid yang akrab dipanggil Vivin dan Faruk bersama sejumlah pegawai H Saikhon baik perempuan maupun pria yang berjumlah sekitar 10 orang. H Saikhon beserta istrinya, Hanifah mengawasi jalannya pembagian zakat dan mendampingi wanita yang membagikan uang.

Awalnya, pembagian berlangsung tertib. Namun sekitar setengah jam kemudian mulai muncul masalah antrean semakin menjadi dan mulai berdesakkan. Situasi semakin tidak terkendali dan beberapa orang di depan pintu gerbang musholla mulai tidak tahan didesak terus dari belakang hingga mereka jatuh pingsan.

Kondisi pengantre yang pingsan mulai banyak dan semakin menjadi dan mulai terdengar teriakan minta tolong dan tangisan dari kerumunan.

“Aduh…, tolong…, aduh, aduh pak, sekelku kecepet (kakiku kejepit),” teriak seorang korban terjepit dan tertindih di antara korban yang jatuh pingsan.

Polisi datang sekitar pukul 10.15 WIB, namun tidak dapat berbuat banyak. Baru sekitar pukul 10.30 WIB, polisi memaksa membubarkan kerumunan itu dengan memasuki lokasi kejadian dengan merusak sesek/gedek yang dipasang.

Baru diketahui banyak penerima zakat yang meninggal dalam kondisi berserakan, tepat di depan pintu gerbang musholla. Satu persatu, jenazah dievakuasi dengan dinaikkan sebuah pick up dan mobil patroli polisi.

Menanggapi tewasnya 21 orang ketika berdesakan mengantre zakat ini, Juru Bicara Serikat Rakyat Miskin Indonesia, Hendri Anggoro mengatakan, hal tersebut merupakan akibat dari sebuah sistem pemerintahan yang tidak berpihak kepada rakyat miskin.

"Mereka merupakan rakyat tidak mampu. Itulah sebabnya mereka berjam-jam mengantre zakat yang hanya bernilai Rp 20.000," ujar Hendri kepada Kompas.com, Selasa (16/9) di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia cabang Jakarta.

Menurutnya, kondisi akan berbeda jika kondisi perekonomian di pedesaan maju. "Jika pemerintah memberikan subsidi dan insentif kepada para petani miskin, serta membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dengan cara membangun pabrik-pabrik di desa-desa, tentunya kondisinya akan berbeda," kata Hendri.

Hendri menambahkan, pemerintah saat ini hanya berkonsentrasi membangun perekonomian di daerah-daerah besar saja, dan melupakan perekonomian di pedesaan. (Kompas)

TOP