DESIGNED BY DILA
shop-ad-books.jpg
Print

Dipukuli, 9 Anak Lapor Polisi

Written by Administrator. Posted in Latest News

GRATI - Sembilan anak asal Dusun Kalipang Krajan, Desa Kalipang Kecamatan Grati Pasuruan kemarin (21/10) pagi mendatangi Polsek Grati. Mereka melapor telah dipukuli pemilik mini market Kopontren di Desa Kalipang.

Sembilan anak tersebut adalah Abdul Rohim, 13; Abdul Fatah, 14; Lukman Hakim, 12; Ainul Lutfi, 14; Damiri, 14; Zainal Abidin, 13; Imron Rosadi, 13; Makdum ibrahim, 11; dan Abdul Rohim, 11. Saat melapor kemarin ada beberapa yang didampingi orang tuanya.

Intinya mereka tidak terima dengan aksi pemukulan yang terjadi Senin (20/10) malam. Menurut mereka, pemukulan itu terjadi karena mereka dituduh pernah melakukan pencurian di mini market itu.

Salah satu bocah, yakni Damiri, mengaku dipukul di bagian kepala, pundak dan punggungnya oleh seorang penjaga minimarket. "Saya nggak tau kalau dipanggil untuk dipukuli. Pertama Haris (penjaga mini market) memanggil karena saya disuruh menjadi saksi pencurian," kata Damiri polos.

Pemukulan itu berawal ketika Abdul Rohim datang ke mini market untuk membeli minyak rambut. Senin sekitar pukul 19.00, Abdul Rohim bersama kakaknya, Lutfi Maulidah Karim, berniat keluar rumah untuk bermain.

Kemudian Abdul Rohim pamit sebentar ke mini market untuk membeli minyak rambut. Setelah masuk ke mini market, Abdul Rohim kemudian membeli minyak rambut gel seharga Rp 1.600.

Ketika berniat membayar, Abdul Rohim dituduh mau melakukan pencurian di mini market tersebut. "Dituduh mencuri, akhirnya saya tidak jadi membeli. Saya letakkan saja kembali minyak tersebut," ujarnya.

Entah lalu kenapa si penjaga toko yang disebutkan oleh Abdul Rohim bernama Muzaki dan Haris justru mencegatnya. Abdul mengaku ia diinterogasi oleh keduanya. "Saya dituduh katanya saya sering mencuri di mini market tersebut. Padahal saya tidak pernah," katanya.

Karena menolak mengaku, akhirnya Muzaki dan Haris memukul Abdul Rohim. Mendapat pukulan, Abdul Rohim menjawab, "Saya bilang saja mungkin yang mencuri itu bukan saya, tapi mungkin teman saya". Dua penjaga toko kemudian menanyakan siapa saja teman Abdul Rohim tersebut.

Akhirnya Abdul Rohim menyebutkan nama-nama temannya yang tinggal di kampungnya. Mendapat beberapa nama, Muzaki dan Haris kemudian langsung bergerak memanggil delapan anak yang disebut Abdul Rohim.

Mulai dari Abdul Fatah, Damiri, Ainul Lutfi dan yang lainnya. Mereka dijemput oleh Muzaki dan Haris. Alasannya mereka semua mau dijadikan saksi tentang pencurian. Begitu ke delapan anak tersebut datang ke mini market, ternyata mereka semua tidak dijadikan saksi. Melainkan ikut dipukul karena disebut-sebut pernah mencuri di mini market.

"Saya kira cuma dipanggil saja. Tau-tau pintu mini market ditutup dan kemudian satu persatu kami dipukul. Saya saja dipukul di bagian kepala oleh Haris. Ia memukul dengan tangan yang dikepalkan," ujar Damiri.

Sambil memukul, tiga penjaga mini market menanyakan apa saja yang pernah dicuri. Selanjutnya tiga penjaga memanggil para orang tua bocah itu. Walau para bocah mengaku tak pernah mencuri, orang tua tetap disuruh membayar barang yang ditudingkan pernah dicuri. Baru setelah itu mereka diperbolehkan pulang.

"Saya tidak terima pihak mini market yang langsung main pukul. Apalagi anak saya tidak pernah mencuri. Ini semua salah paham. Tapi saya tetap tidak terima karena anak saya jadi korban penganiayaan," kata Anas, 35, orang tua Lukman Hakim.

"Kita kan masih punya perangkat desa. Seharusnya pihak mini market bisa memanggil perangkat desa untuk menyelesaikan masalah ini. Eh kok tau-tau main pukul kayak preman," ujar Sodik, 30, ayah dari Damiri.

Kapolres Pasuruan AKBP Setyo Boedi MH melalui Kapolsek Grati AKP Bambang HS mengatakan masih menyelidiki masalah ini. Pihaknya juga akan memanggil penjaga toko Muzaki, Haris dan Dullah.

Jika memang ada unsur kesengajaan maka si pemukul bisa dikenai kasus penganiayaan. "Kami akan menyelidiki dahulu apakah benar anak-anak tersebut melakukan pencurian di mini market. Tapi yang jelas pemukulan tersebut sebenarnya tidak diperbolehkan," terang Kapolsek. (RB/fun)

TOP