DESIGNED BY DILA
shop-ad.jpg
Print

Anak Korban Lumpur Lapindo Mulai Dijual Jadi PSK

Written by Administrator. Posted in Latest News

Ketika berkunjung ke Sidoarjo kemarin, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dilapori soal indikasi trafficking anak-anak korban lumpur di Porong yang dijadikan pekerja seks komersial (PSK). Laporan tersebut berdasar temuan Kelompok Peduli Perempuan dan Anak Korban Lumpur (Kepak) di lapangan.

Temuan tersebut disampaikan secara langsung kepada Meutia saat menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV di Pendapa Kabupaten Sidoarjo. Sebelumnya, temuan Kepak itu dikoordinasikan dengan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Sidoarjo.

Berdasar temuan tersebut, dua anak di bawah umur dijadikan PSK di kawasan lokalisasi Tretes, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Mereka berasal dari Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Porong. "Nama dan identitas yang lain tidak kami publikasikan dulu," jelas Koordinator Umum Rehabilitasi Perempuan dan Anak Korban Lumpur P3A Suagustono.

Menurut dia, sebelum terjebak dalam dunia prostitusi, anak-anak tersebut diiming-imingi akan dicarikan pekerjaan di luar kota. Anak-anak yang masih berumur belasan itu direkrut saat masih tinggal di penampungan Pasar Porong Baru (PPB). "Orang-orang itu termasuk sindikat trafficking yang terus beredar di beberapa tempat selama ini," jelasnya.

Karena itu, selain di lokalisasi di Tretes, diperkirakan ada anak-anak korban lumpur yang dijual di kawasan lokalisasi Dolly, Surabaya. "Untuk sementara, yang terbukti masih di Tretes saja," ungkap Agus (panggilan akrab Suagustono).

Hingga saat ini, dua anak tersebut masih berada di lokalisasi Tretes. Namun, ungkap Agus, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menguak temuan tersebut. "Kami juga akan berusaha membebaskan mereka," tambahnya.

Selain upaya-upaya tersebut, P3A berencana membuka kembali posko di penampungan korban lumpur PPB. Hal itu dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang kepada anak-anak korban lumpur yang sekarang masih tinggal di pengungsian.

Menurut pengarah P3A Dr Emmy Susanti yang juga istri Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, pembukaan posko itu segera direalisasikan. "Ini sangat penting. Jangan sampai kejadian serupa terulang di kemudian hari," ungkapnya.

Menurut Emmy, semua indikasi tersebut sudah dilaporkan kepada Meutia. Menanggapi hal itu, Meutia berharap agar pemerintah Sidoarjo benar-benar memerangi hal tersebut. "Jangan sampai kecolongan atau terjadi lagi perbuatan tercela itu," tegas putri mantan Wapres pertama RI tersebut.

Dalam kunjungannya ke Sidoarjo, Meutia berdialog dengan para pengungsi. Sangat banyak yang mengacungkan tangan saat diberi kesempatan untuk bertanya. Perempuan korban lumpur terlihat ingin menumpahkan keluh-kesahnya kepada Meutia. Mulai yang menanyakan bagaimana harus mencarikan kerja anaknya yang baru lulus sekolah sampai kapan ganti rugi rumahnya yang tenggelam akan dicairkan.

Bahkan, Tazlima, salah seorang warga Renokenongo yang mengaku sudah satu tahun tidak punya rumah, menangis saat bertanya kapan cash and carry 20 persen dibayarkan kepada dirinya dan keluarga. "Tolong Bu disampaikan ke teman-teman menteri yang lain. Kami ini terus dibohongi, janji-janji Lapindo tidak pernah dipenuhi," ujarnya sambil terisak.

 

 

 

TOP