DESIGNED BY DILA
shop-ad.jpg
Print

Written by Administrator. Posted in Latest News

Mengingat posisi Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai focal point Indonesia sekaligus Chairman pada sidang ASEAN Task Force on Codex (ATFC)  ke 8 yang telah diselenggarakan pada tanggal 26-28 Mei 2008 di Bukittinggi, Sumatera Barat, maka BSN perlu hadir dalam sidang Special SOM-29th AMAF di Chiang Mai, Thailand, tanggal 5-7 Agustus 2008.

Sidang dipimpin oleh Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian dan Koperasi/Ketua SOM Thailand dan wakilnya adalah Ketua SOM AMAF Vietnam serta dihadiri oleh delegasi wakil dari 10 negara anggota ASEAN, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippine, Singapore, Thailand, Vietnam dan Sekretariat ASEAN, delegasi Indonesia  dipimpin oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan beranggotakan para wakil dari Dep. Kehutanan, Dep. Pertanian, Dep. Kelautan dan Perikanan, Dep. Luar Negeri dan Kepala Pusat  Penerapan Standar dari BSN.

Print

Written by Administrator. Posted in Latest News

Undang-Undang Dasar 1945 adalah payung hukum bagi seluruh warga negara Indonesia. Tidak ada satu kelompok pun yang berhak mencantumkan diri dalam UUD, termasuk Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Yudi Latif, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Mulya Jakarta, menanggapi usulan Forum Umat Islam untuk mencantumkan Islam sebagai agama resmi dalam UUD 1945. "Tidak betul itu. Tidak bisa dicantumkan satu klausul dalam UUD 1945 untuk kelompok tertentu," kata Yudi Latif yang dihubungi via telepon, Jumat (22/8).

Usulan pencantuman Islam sebagai agama resmi dalam UUD 1945 disampaikan anggota FUI Ustad Zainuddin saat menemui Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Kamis (21/8). Menurut Zainuddin, pencantuman itu penting untuk menghindari penafsiran terhadap satu agama yang melenceng dari keyakinan mayoritas, seperti terjadi pada Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Yudi Latif menilai usulan tersebut tidak tepat lagi saat ini. Sebab, yang sekarang harus didesak adalah membangun bangsa yang bersatu dan berdaulat. Dia menduga usulan tersebut sebagai upaya penggunaan simbol agama untuk tujuan tertentu. "Jangan ditarik-tarik lagi," ujarnya.

Print

Written by Administrator. Posted in Latest News

Salah satu kontributor Jurnal Perempuan Jerman, Dewi Candraningrum, pada Senin 19 Mei 2008 lalu mendapatkan undangan untuk memberikan Gastvortrag (Kuliah Tamu) oleh Berthold Damshäuser di Institut für Orient und Asienwissenschaften, Universität Bonn. Kuliah tamu ini merupakan salah satu hasil penelitiannya di Universität Münster atas maraknya jilbab pasca runtuhnya Suharto. Selain dihadiri oleh kurang lebih 25 mahasiswa, kuliah ini juga menjadi ajang pertukaran budaya dan informasi bagi mahasiswa Jerman untuk mengetahui Indonesia lebih jauh. Beberapa mahasiswa menanyakan tentang kemungkinan melakukan praktikum di Yayasan Jurnal Perempuan di Jakarta untuk keperluan penelitian.

Lautan Jilbab Pasca 1998

Pak Trum, demikian komunitas sastra Indonesia biasa memanggil Berthold Damshäuser, memberikan kata pengantar untuk para mahasiswa tentang perkembangan terakhir Indonesia setelah tahun 1998. Hampir setiap bulan Indonesia mengalami perubahan yang cukup penting, dengan adanya kebijakan-kebijakan baru di beberapa daerah. Kebijakan baru ini salah satunya diinspirasi oleh pemahaman literal Syariah. Dewi Candraningrum pada kesempatan ini menyampaikan bahwa ada banyak keragaman tafsir atas ayat jilbab, yaitu Surat An Nur ayat 31 dan Surat Al Ahzab ayat 53 dan 59. Di Saudi Arabia, ayat ini ditafsirkan sebagai mewajibkan perempuan untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kedua matanya. Perempuan di beberapa daerah di Arab diwajibkan memakai burqa dan niqab, yaitu penutup wajah semacam cadar.

TOP